Tips Persiapan Maraton yang Harus Kamu Tahu

Tips Persiapan Maraton yang Harus Kamu Tahu

majalahtren.com – Tips Persiapan Maraton yang Harus Kamu Tahu. Marathon adalah acara lomba jarak panjang dengan panjang 42.195 kilometer yang dapat dilakukan sebagai kompetisi di jalan (di jalan) atau di luar jalan (offroad). Maraton adalah jenis latihan berat. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa kondisi fisik dan mental siap untuk maraton.

Karena maraton adalah latihan yang berat, Dr. Grace Joselini Corlesa, MMRS, SPKO, spesialis kedokteran olahraga di Rumah Sakit Pemulihan Lesi Olahraga (SMIRC) Pondok Indah – Bintaro Jaya, tips bersama yang berkaitan dengan maraton.

Pada peluncuran yang diterima pada hari Senin (9/19/2022), ia menjelaskan tentang persiapan kompetisi balapan dan cedera yang dijalankan oleh para aktivis.

1. Melakukan medical check-up

Grace menjelaskan bahwa pemeriksaan medis -Ups harus dilakukan untuk mengetahui kondisi fisik seseorang sebelum menghadiri maraton. Ujian ini tidak hanya berlaku untuk maraton, tetapi juga untuk olahraga berat lainnya.

Jika Anda mengalami gejala, seperti nyeri dada, kurang napas atau kelelahan berlebihan, konsultasikan dengan dokter segera sebelum berlatih. Faktor risiko, seperti penyakit jantung atau penyakit arteri koroner, juga harus dipertimbangkan sebelum maraton.

2. Merencanakan latihan dengan matang

Selain pemeriksaan medis, ia memiliki latihan yang direncanakan penting untuk mempersiapkan secara fisik dan mental. Menurut Dr. Grace, koridor pemula dapat memulai pelatihan dengan jarak 5-8 kilometer. Jika koridor canggih berjalan, latihan ini dapat dimulai dengan 9-12 kilometer dikombinasikan dengan latihan kecepatan.

Dalam banyak kasus, rencana pelatihan terdiri dari 4 hingga 5 sesi pelatihan setiap minggu. Sesi pelatihan ini mencakup pelatihan pada akhir pekan dengan jarak yang lebih besar. Jarak latihan dapat ditingkatkan secara bertahap.

3. Risiko cedera olahraga

Tanpa persiapan yang baik, maraton dapat menyebabkan beberapa cedera, mulai dari sedikit hingga parah. Menurut Dr. Gracia, beberapa cedera olahraga yang umum untuk pelari meliputi:

  • Plantar Fasciitis: Nyeri tumit kaki.
  • Sindrom Nyeri Patelofemoral: Lesi yang terjadi pada tulang rawan di bawah kulit lutut.
  • Splint Shin: Nyeri di sekitar mucikari karena teknik karir yang tidak pantas.
  • Iliotibial Band Syndrome: Lesi yang terjadi pada tulang paha karena gesekan jaringan ikat yang menjadi sangat ketat. Ini dapat terjadi karena lesi karena penggunaan yang berlebihan, otot -otot bokong lemah dan pemanasan yang tidak memadai.
  • Achilles Tendinitis: Nyeri di pangkal betis akibat lesi karena penggunaan berlebihan dan otot betis yang lemah.

4. Berpotensi menyebabkan kerusakan jantung dan ginjal

Selain cedera olahraga, maraton juga memiliki potensi untuk menyebabkan masalah jantung. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Jurnal Jantung Eropa bahwa latihan perlawanan, termasuk maraton, menyebabkan disfungsi di ventrikel kanan jantung (RV).

Meskipun pemulihan jangka pendek dapat dilakukan, penelitian telah ditunjukkan bahwa perubahan struktural kronis dan penurunan fungsi RV.

Di sisi lain, informasi di halaman Healthline menulis bahwa beberapa faktor, seperti dehidrasi, peningkatan suhu inti dan penurunan aliran darah ke ginjal menyebabkan cedera ginjal akut.

5. Lengkapi asupan cairan dan nutrisi

Saat berlari, Dr. Grace merekomendasikan untuk menjamin cairan tubuh yang dipenuhi dengan baik. Saat Anda berlari kurang dari 1 jam, air biasa sudah cukup. Namun, jika berjalan lebih dari 1 jam dan dengan jarak tambahan, maka minuman yang mengandung elektrolit.

Selain itu, mengonsumsi gel atau batang energi dapat memberikan energi tambahan jika berjalan dengan jarak lebih dari 10 kilometer. Setelah berlari, disarankan untuk makan makanan yang membantu mengembalikan energi, seperti makanan dengan karbohidrat kompleks (roti, nasi, pasta, buah -buahan dan sayuran).

Maraton adalah latihan berat yang membutuhkan persiapan dan olahraga khusus. Tanpa persiapan yang cermat, maraton dapat menyebabkan lesi olahraga dan disfungsi organ internal, seperti jantung dan ginjal. Spesialis kedokteran olahraga dapat membantu merancang rencana pelatihan yang sesuai untuk Anda.